Mencari ...
Jumat, 19 April 2013

Menstruasi, Pembentuk Peradaban Manusia

Pada awalnya adalah darah perempuan, lantas terjadilah dunia seperti sekarang.

Praktek Etnomatematika Tertua
Siapa penemu matematika? John Kellermeier melacak temuan tertua matematika, yang dikenal sebagai "ethnomathematics", yaitu ilmu matematika tribal, kesukuan. Contoh etnomatematika bisa dilihat di buku-buku primbon di mana terdapat panduan berdagang, menghitung peruntungan, dan mengenal orang lain melalui statistik, pengalaman, dan matematika.
Matematika di masa lalu, berusaha menjelaskan dan memahami realitas untuk mentransenden (misalnya perhitungan hari dan perbintangan), mengelola pertanian, dan survival (bertahan hidup). Matematika berarti menghitung, menata, menyortir, dan merancang-bangun. Tanpa matematika, tidak akan ada bangunan piramida Mesir dan Aztec, tidak ada pula perahu penjelajah antarbenua.
Siapakah yang paling awal menggunakan matematika? Jawabnya: perempuan.

Bukti Arkeologi Masa Paleolitikum
Bukti ini bermula dari temuan tulang Ishango di Danau Edward, Zaire, Afrika. Uji isotop atom memperkirakan umurnya antara 25-20.000 tahun sebelum Masehi. Tulang ini sudah memfosil, terdapat banyak goresan ijiran yang menjelaskan 6 bulan bersistem kalender bulan. Temuan hampir serupa, dengan umur berbeda seputar tulang berkalender lunar ini, ada juga di Congo, Afrika, Eropa, Isturitz, Perancis.
Temuan arkeologis ini bermakna sebagai bukti penggunaan angka yang tertua yang pernah ada. Mereka sudah berhitung kuantitatif, mengenal siklus, dan mengglobal karena ditemukan di pelbagai belahan dunia.
Masa diciptakannya tulang kalender ini ada pada zaman Paleolitikum, zaman di mana mitologi dicirikan dengan supremasi dewa perempuan di Eropa. Citraan tentang dewa perempuan suci, sering digambarkan sebagai pemberi kehidupan, dengan menekankan menonjolnya buah dada, gerakan lembut, vulva, serta diguratkannya darah menstruasi sebagai simbol realisme, di lukisan dan relief, misalnya lukisan Venus dari Willendorf dan Laussel. Batu merah dan 13 titik bulan (dalam setahun, bukan 12) membuktikan bahwa pada zaman itu siklus menstruasi menjadi penanda penting dilakukannya perhitungan matematis. Ada juga citraan perempuan abstrak dari Dolni Vestonice, Republik Czech, serta batu cakram bergaris yang menandai siklus menstruasi.
Menstruasi, terhubung dengan matematika, siklus bulan, di mana perempuan memiliki motivasi, metode, dan kesempatan sebagai pemula notasi bulan (Grahn, 1993:156).

Menstruasi, Ritus Sakral
Peristiwa menstruasi itu sakral. Dari menstruasi ini, terjadilah praktek matematika yang terkait antara tubuh perempuan (yang darahnya keluar) dengan yang transenden (langit, jagat raya).
Perempuan pula yang menjadi pemula (originator) tabu, ritus, dan "agama" di masa lalu, berdasarkan praktek menstruasi. Orang Polynesian mengenal "taboo", yang berarti "peraturan" atau "yang sakral". Kata yang berarti "menstruasi" dalam lidah Eropa adalah "regel" (Jerman), "regle" (Perancis), dan "las reglas" (Spanyol). Semua kata tersebut berarti "mengukur/menghitung", "aturan", dan "menstruasi".
Peradaban Islam memberikan aturan yang amat sangat panjang seputar menstruasi (haidh), serta konsekuensi hukum, sosial, dll. yang terkait dengan darah menstruasi seorang perempuan.
Ritus menstruasi pada zaman dulu, sering berhadapan dengan kanon langit yang memposisikan manusia dalam hubungan "tuan-budak" dengan Yang Transenden, membawa praktek penghukuman dan pengucilan, atau tepatnya: pembedaan. Tidak selalu berarti negatif. Perempuan yang menstruasi, disendirikan dan diberi pakaian berbeda.
Ritus semacam ini banyak ditemukan di karya seni kuno.
Menstruasi, darah kotor yang mengalir itu, menjadi sebab terjadinya pembentukan karakter. Bagaimana perempuan harus menjaga kebersihan tubuhnya, bagaimana darah dikaitkan dengan imaji tentang
Metode mengatasi tubuh, merasakan kesadaran dengan Waktu (siklus), menjalani hari secara berbeda, adalah pekerjaan perempuan.

Penciptaan dan Pemisahan
Ide "pemisahan", selalu muncul dalam folklore (cerita rakyat) di peradaban kuno. Dunia tercipta saat kegelapan dipisahkan dari cahaya. Suku Tsimshian Indians Amerika Utara dan Yunani, mengenal mitos sama, seperti pula ide tentang Tiamat (di Babylonia), Ahuramazda, dll., walaupun bahasanya berlainan: langit-bumi sebagai maskulin-feminin, cahaya-kegelapan, laut-daratan, adalah ide-ide tentang pemisahan dan keseimbangan. Yang Tertinggi menjadi "harmony" (keselarasan) dan "balance" (keseimbangan), bukan "sesuatu", melainkan pemisahan yang menyatu.
Tiamat di masa Babylonia, adalah menstruasi yang dikeluarkan, pralambang rumit tentang alam. Nama ini juga dikenal perannya sebagai Gaia (ibu bumi yang mengalahkan Kronos, anaknya, yang merupakan bapak dari Zeus dewa tertinggi).

Penutup
Kesadaran "menjadi" perempuan, pada saat pengucilan maupun saat menjalani ritus, membuat perempuan mengenakan pakaian dan kosmetika. Praktek menggunakan penutup tubuh (veil, hijab) berasal dari menstruasi, saat perempuan "dibedakan" dari "yang lain" selama dia menstruasi. Praktek mengenakan kosmetika dari tanaman dan hewan, merupakan hasil kedekatan perempuan dengan sistem cocok tanam, demikian pula pemakaian aksesoris di lubang-lubang tubuh, untuk menjaga perempuan dari "kekuatan jahat", berupa pemakaian gelang kaki, tindik, kalung, gelang, dan giwang.
Menstruasi, membawa banyak konsekuensi peradaban. Darah yang keluar dari tubuh perempuan itu, membawa ide matematika dan sistem penanggalan, pemisahan dan pembentukan karakter, termasuk pakaian dan kosmetika.
Kelak, ritual penyatuan dengan alam, berkomunikasi dengan Yang Suci, akan dikenal manusia sebagai agama dan peradaban manusia. Darah menstruasi, membentuk dunia yang sekarang kita alami bersama.

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang








Share This To :

0 comments:

Poskan Komentar